Minggu, 06 Januari 2013

Thank You 2012, Welcome 2013 [Diah Sri Hartini]


JUDUL : Dreams Will be Come True
Cerita  :
Thank You 2012...
Menengok kembali tahun 2012 adalah hal yang istimewa bagiku. Di tahun ini, beberapa peristiwa penting mewarnai langkahku seiring dengan impian yang kugantungkan. Tahun 2012 aku mengalami masa transisi dari statusku sebagai pelajar kini menjadi mahasiswa. Mahasiswa, satu dari dua hal di dunia ini yang diberi nama sebesar itu, Allah Sang Maha Segalanya. Serentetan peristiwa yang kuurut hingga menjadi seorang mahasiswa dan ditambah dengan hobi menulisku adalah beberapa impianku yang dapat kucapai sepanjang tahun 2012.
5 Februari 2012
Setelah tiga tahun aku bersaing dengan ratusan siswa di sekolahku, akhirnya hari ini aku berhasil memperoleh kesempatan mendaftarkan diri masuk perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN Undangan. SNMPTN Undangan ini menjadi tujuan utamaku sejak aku duduk di kelas satu SMA. Jalur masuk ini menguntungkan bagi pelajar karena kelulusannya hanya mempertimbangkan hasil belajar kita selama enam semester. Posisiku diurutan ke-5 teratas mempermudahkanku mendaftarkan diri di perguruan tinggi terbaik yang kuinginkan. Alhamdulillah.
9 April 2012
Hari ini untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memenangkan lomba menulis. Meski menduduki peringkatkan kedua, tak kusangka banyak yang menyukai tulisanku. Impianku untuk menjadi penulis terobati dengan kemenanganku sekaligus sebagai penyemangatku mengikuti ujian nasional seminggu kemudian, 16-19 April 2012.
24  dan 26 Mei 2012
Tanggal 24 mei adalah hari yang mendebarkan, menegangkan, menyenangkan, dan segala perasaan tumpah ruah pada hari ini. Sepucuk surat kelulusan UN kuterima siang itu. Siang itu, satu impian dan bebanku hilang sudah.
Dua hari setelah itu, 26 Mei, aku mendapat kejutan lain. Berbekal modem dan laptop, kulihat kelulusanku masuk ke perguruan tinggi melalui jalur undangan. Itu berarti, aku tak mesti mengikuti ujian tertulis yang menjadi momokku selama ini. Alhamdulillah, Tuhan mempermudahkan jalanku..
27 Agustus 2012
Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, kuinjakkan kakiku di dalam gedung pembukaan penerimaan mahasiswa baru tahun ajaran 2012/2013. Baju putih hitam memonopoli ruangan ini. Hari ini aku resmi menjadi mahasiswi Fakultas Ekonomi UNHAS jurusan Akuntansi. Uniknya, nomor induk mahasiswa milikku memiliki empat digit angka terakhir yang sesuai dengan tahun istimewaku, 2012. Cita-citaku menjadi mahasiswi UH tercapai sudah.
 ***
Welcome 2013!
Tahun 2012 adalah tahun yang mendebarkan bagi seluruh umat manusia di dunia. Berita tentang kiamat yang akan terjadi membuat sebagian besar orang was-was akan datangnya tahun ini. Nyatanya, kita telah melewatinya dan kini berada di awal tahun baru 2013 yang pasti akan memiliki halau rintang yang berbeda dari sebelumnya.
Di tahun ini, tak lupa kupanjatkan impian dan harapanku, yaitu;
Insya Allah aku akan mendapatkan IP yang baik dan Beasiswa
 Semester pertama telah kulewati dan kini tinggal menunggu hasilnya. Semoga nilai-nilaiku dapat menunjang kuliahku di semester ke depannya. Dengan begitu, aku berpeluang memperoleh  beasiswa. Amin..
Insya Allah tanteku menikah
 Semoga tahun ini Allah mempertemukan jodoh yang terbaik untuknya, memperlancar pertemuannya dan segala urusannya. Amin… J
Hubunganku dengan sahabatku makin erat
Tahun 2012 lalu hubunganku dengannya kurang baik. Kami tidak sedekat dulu dikarenakan adanya masalah internal di antara kami. Mungkin juga karena kesibukan kami masing-masing sehingga komunikasiku dengannya merenggang. Tapi semoga tahun ini dan tahun-tahun berikutnya hubungan kami terus terjaga dan makin erat. Amin..
Semoga segala urusan dan kegiatanku dilancarkan
Banyak hal yang ingin kulakukan di tahun ini, seperti mengikuti LK, kuliah, reuni, tugas-tugas kuliah tentunya, dan sebagainya. Semoga Allah memperlancarnya dan mempermudahkanku untuk mengikuti kesemua itu. Amin..
Diberikan kesehatan, rejeki, dan umur yang panjang
            Tanpa kesemua itu, aku tidak mungkin melaksanakan semua rencanaku. Semoga Allah senantiasa melimpahkan kesehatan, rejeki dan umur kepadaku, keluarga, kerabat, dan semua orang-orang yang kusayangi. Amin..

Semoga harapan yang kupikirkan saat ini dan yang mungkin nanti, dapat terjadi dan terlaksana
            Ini penting. Tidak ada harapan yang lebih bagus selain harapan yang kita inginkan tercapai J. Saat ini harapanku adalah hal-hal yang kutuliskan di atas, jika nanti ada terbesit harapan baru, semoga semuanya dapat tercapai. Amin…

Terima kasih sudah membaca harapan dan doaku di tahun ini, semoga apa yang kita harapkan semua dapat tercapai dan apa yang sudah terjadi dapat kita ambil hikmah di baliknya.
Amin wa iyaakum J

“GagasMedia : http://gagasmedia.net
Gammara Leather : http://gammaraleather.com


Sabtu, 05 Januari 2013

Tentang Cinta Sejati


“Kamu yakin, dia yang selama ini kamu cari?”
“Insya Allah, Nis..” jawab seorang gadis yang asyik mengganggu semut-semut yang berbaris rapi di meja. Rambut hitam kecoklatannya diikat begitu saja di atas kepalanya.
Gadis yang bertanya itu mendesah dan menggeleng pelan ke arah sahabatnya. Bukan kali ini dia menanyakan hal yang sama dan bukan pertama kalinya juga dia mendapatkan jawaban yang sama pula.
“Aku takut, Key. Kamu dengar sendirikan gossip-sosip di kampus. Ini bukan masalah kepribadianmu, tapi aku takut mereka.. mereka yang sakit hati ke kamu… Aku takut mereka…”
“Kamu takut mereka melakukan hal buruk kepadaku? Hah! Aku tak takut Nis, kamu kan tau siapa aku!” selanya cepat.
“Oke, I know. But, apa sih yang sebenarnya kamu cari dari mereka? Gonta ganti pasangan itu ndak baik, Keyo! Kamu itu bukan remaja lagi! Umurmu sudah 21 tahun! Lagian, kamu juga tau kan, dalam Islam tidak ada istilah pacaran. Yang ada ta’aruf dan langsung merit. ” panjang lebar gadis berjilbab biru itu menjelaskan.
Gadis itu, Keyo Caruso, hanya tersenyum. Mata birunya membesar, membuatnya terlihat semakin cantik. Tak heran banyak teman laki-laki sekampusnya yang menyukainya. Keyo memang sudah berulang kali menjalin hubungan dengan banyak lelaki sejak SMA lima tahun yang lalu ketika ia datang pertama kali ke Indonesia. Namun, semuanya bernasib yang sama, putus. Dan itu selalu Keyo yang memutuskan. Maka tak heran teman-temannya memberikan julukan playgirl kepadanya.
“Thanks for your advise. But, not now. Saya tau maksudmu sayang, I’m learning Islam now. And I guess he can help me” jawabnya.
“What’re you looking for them? And him?” Tanya sahabatnya lagi.
“I’m looking for a true love, Nis.  Rasanya, ada yang kurang dari mereka. Tapi dia beda, Nis. I know that..” Keyo menerawang jauh ke balik jendela besar di rumahnya. Ia kembali menatap barisan semut tadi. Sesekali ditiupnya sehingga beberapa semut terdorong menjauhi ‘jalurnya’.
Keyo tertawa sendiri melihatnya. Dulu, waktu ia kecil dia pernah bertanya kepada ayahnya mengapa semut kalau berjalan selalu berbaris dan ‘menyapa’ temannya. Semut-semut itu membuat jalur dengan sinyal-sinyal tertentu dari tubuhnya agar teman lainnya mengikuti jalur tersebut menuju tempat makanan, apabila kita mengolesi bau di jalurnya maka mereka akan kehilangan sinyal tersebut, kata ayahnya.
“Semut. Terkadang kita, manusia, harus belajar pada binatang sekitar kita..” seru sahabatnya membuyarkan lamunan Keyo. Keyo menoleh. Gadis itu tersenyum, lalu katanya “Seperti semut. Perilaku mereka dapat ditafsirkan ke dalam pergaulan kita sehari-hari..”
“Ya, saling bergotong royong, berkerja keras… itu, kan?”
“Ya, dan kamu juga tau setiap kali mereka bertemu teman lainnya, mereka seperti ‘menyapa’ temannya. Ya, ya, saya tau mereka saling memberi informasi, tapi kita dapat mengambil hikmah Key. Dalam hidup sesibuk apa pun kita, kita harus tetap menjaga tali silaturahim antar keluarga, sahabat, tetangga…”
“So, what’s your point?”
“Hahahaa… kamu tuh Key! Aku belum selesai ngomong! Kamu tahu kuda laut, kan? Tau ngak dalam hidup seekor kuda laut, mereka hanya sekali memiliki pasangan. Jika pasangan mereka mati, mereka tidak mencari yang lain. Mereka akan hidup sendiri dan lama-kelamaan pun mati. Romantis, kan? Mereka mengajarkan untuk setia pada pasangan kita, tidak tamak, serakah. Tidak, tidak, aku tidak menyindirmu..” Gadis itu tersenyum. Dia sudah terbiasa dengan sikap kritis Keyo.
“I just wanna say, there are not a perfect in this world. Kita hanya harus bertahan menerima pasangan kita apa adanya. Itulah cinta sejati. Seperti kuda laut itu. Bukannya aku menakutimu, tapi hukum karma masih berlaku, Key” Tambahnya.
Keyo terdiam. Benar, apa yang dikatakan sahabatnya. Selama ini dia tidak tahan dengan mantan-mantannya hanya karena sedikit kebiasaan yang tidak disukainya. Astagfirullah… Ya Allah, maafkan hamba.. batinnya.
***
Namanya Isyai Anugrah Ramadhan. Lahir di waktu isya di bulan Ramadhan dan merupakan anugrah yang tak terkira bagi kedua orang tuanya atas kehadirannya yang telah ditunggu-tunggu selama delapan tahun. Berbadan tegap dan berperawakan ramah. Setidaknya itu hal pertama yang Keyo tangkap dari lelaki berusia 3 tahun lebih tua di atasnya itu.
Sejak pertama kali bertemu dengannya, keyo langsung menyukainya. Dan sepertinya lelaki itu juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Mereka sering membuat janji untuk bertemu. Sekedar pergi makan siang kalau Rama sedang istirahat kerja. Keyo sangat bersyukur dia telah memeluk islam lebih dahulu, karena Rama tipe lelaki yang religious dan itu berarti dia tidak mungkin mau akrab dengan gadis yang nonmuslim dan keturunan asing pula.
Keyo sangat jatuh cinta kepadanya. Dia sangat yakin bahwa inilah laki-laki yang dicarinya selama ini, yang dapat menjadi imam bagi dirinya dan anak-anaknya nanti.
Lalu tiba-tiba saja semua itu terjadi. Suatu pagi, Keyo mendapat sebuah surat dari alamat Rama. Di dalamnya ada dua pucuk surat. Tapi Keyo memilih membaca surat yang bertuliskan ‘Untuk Keyo’ terlebih dulu.
Assalamualaikum Wr. Wb
Saya meminta maaf karena saya sangat tidak sopan kepadamu, Keyo. Saya tau seharusnya saya memberitahukanmu secara langsung tapi karena ada urusan yang sangat mendesak, terpaksa saya mengirimimu surat ini. Saya akan menikah Keyo. Kedua orang tuaku ternyata telah menjodohkanku secara diam-diam dengan teman anaknya.
Aku tau apa yang kamu rasakan selama ini dan saat membaca surat ini. Dan apa yang telah kita lalui selama tiga bulan ini. Aku menyukaimu, Keyo. Sejak pertama kali kita bertemu. Tetapi sayang semua sudah terlambat. Maafkan aku Keyo, aku tidak bisa mengenalkanmu pada kedua orang tuaku, dan aku tidak akan mungkin membuat mereka kecewa. Bersama surat ini, ada undangan yang kukirim kepadamu. Maafkan aku. Kuharap Kau akan datang pada pernikahanku nanti. Kuharap kau dapat mengerti.
Wassalam
                                                                                                                   Isyai Anugrah Ramadhan
            Tangan Keyo bergetar memegang surat itu. Kemudian, dibukanya surat undangan lelaki itu. Dengan bibir bergetar, gadis itu membaca nama yang tertera di undangan itu. Hatinya teriris sakit. Undangan itu perlahan-lahan basah terkena air yang jatuh dari kedua matanya..
***
            Keyo mencoba tegar. Perlahan-lahan, seiring bergantinya hari, rasa sakit itu semakin memudar. Dia harus sabar dan ikhlas. Mungkin ada hikmah dibalik semua itu. Di saat dirinya sangat mencintai seseorang begitu dalam, tiba-tiba semuanya berubah cepat dengan perasaan sakit tak terperi yang dirasakannya. Keyo kini sadar, mungkin diantara mantannya dulu, ada yang mencintainya begitu dalam, seperti dirinya kepada lelaki itu. Dan rasa sakit yang dirasakannya saat ini mungkin pernah ada diantara mereka. Ya, karma memang masih berlaku. Tuhan paling tahu cara menyadarkan hamba-hamba-Nya.
            Tak berapa lama setelah itu, Keyo memutuskan untuk berjilbab. Shalat malam semakin dipermantapkannya. Ia pun mulai mengikuti pengajian muslimah bersama sahabatnya. Gadis itu yakin masih banyak hal yang harus dilakukannya sebelum menikah. Jika saatnya tiba, dia akan mencoba untuk ikhas menerima segala kekurangan yang dimilikinya. Dan mencoba setia. Seperti kuda laut itu..


Senin, 28 Mei 2012

Melihatmu Untuk yang Terakhir Kali


Dear  Sahabat-sahabatku,
Keluarga Besar EX2NE1

Tak terasa waktu telah mengakhiri kebersamaan kita. Tak terasa dua tahun telah kita lewati bersama. Dua tahun ‘lamanya’ kita lewati bersama, suka maupun duka. Kini kita harus berpisah, dipisahkan oleh tuntutan kehidupan menuju masa yang lebih matang, lebih dewasa. Sebelumnya saya meminta maaf, mungkin sebagian dari kalian menganggap ini terlalu berlebihan, atau alay, tapi sungguh saya ingin mengatakan betapa beratnya harus berpisah dengan kalian semua.
Seharusnya saya mengatakan ini dari dulu, tapi tidak apa-apa kan, kalau saya menulisnya di sini? Jujur, saya akan sangat merindukan kalian semua.  Saya akan merindukan suasana kelas kita. Saya akui dulu saya memang tidak suka sekali kalau kawan-kawan semua ribut, sebagai sekretaris, pantas dong kalau saya marah-marah terus sama kalian, itu kan untuk kepentingan kita semua, hehehe. Tapi sekarang saya rasakan sekali Kawan, saya rindu sekali. Saya rindu sengan bangku-bangku kelas, tempelan-tempelan di dinding, yang kita kerjakan sampai sore hari. Masih ingat kan? Saya rindu dengan suasana kelas saat PBM. Saat kita menyalin pekerjaan rumah teman, saat tidak ada guru kita sibuk menyanyi-nyanyi sampai-sampai pernah Ibu Sri menegur kita, atau berusaha menahan kantuk saat jam-jam siang…
Ah.. rasanya sulit sekali untuk meninggalkan cerita-cerita itu. Seandainya bisa kuputar waktu, akan kuputar lagi masa-masa itu Kawan, akan kuulang lagi semua momen indah yang sempat terlewatkan. Tapi sayang, saya bukanlah Doraemon yang dapat memutar waktu dengan mesin waktunya, bukan Hermonie dengan kalung waktunya, dan saya pun bukan Sang Pemilik Waktu.
Melihatmu untuk yang terakhir kali. Saya harap, kemarin adalah kali terakhir saya melihat kalian masih dengan nama tanpa title apa pun. Saya yakin, beberapa tahun kemudian saya akan bertemu lagi dengan kalian semua dengan cerita kesuksesan kalian masing-masing.Sekarang, kita semua sibuk mempersiapkan masa depan kita, saya hanya ingin mengucapkan Selamat berjuang Kawan! Bersama, kita raih masa depan itu! Suatu saat nanti, jika ada umur panjang, kita pasti akan bertemu lagi.

Dari temanmu yang selalu mengaku menjadi admin Kelas,

Diah Sri Hartini               

Jumat, 06 April 2012

HOLIDAY WRITING CHALLENGE-GAGAS MEDIA

Novel : FORGIVEN, hlm. 98-99
Penulis : Morra Quatro


“Apa?” tanyaku dengan suara pelan sekaligus bingung karena tidak menyimak percakapannya.
                Will tiba-tiba diam. Ia berhenti, dan menundukkan wajahnya kepadaku.
                “Karla, kamu percaya sama aku?”
                Waktu kecil, aku pernah punya boneka Barbie. Papa membelikannya, tapi tak lama kemudian aku meninggalkannya karena Barbie hanya bisa berganti baju dan piknik, tidak terbang atau berjalan sendiri seperti helicopter dan kereta api yang kemudian ku-request sendiri pada papa. Itu adalah Barbie edisi pertama yang dijual di Indonesia. Barbie-ku rambutnya pirang, besar bervolume, dengan mata biru yang indah. Aku suka menatap matanya, tak habis pikir adakah orang yang punya mata biru seperti itu. Tapi, betapa pun indah dan birunya mata Barbie-ku, keduanya tidak bersinar. Tak bisa dirasakan kehidupan dari sana sedekat apa pun aku menatapnya.
                Rasanya nyaris seperti itu ketika kuangkat wajah menatap kedua mata Will saat ini.
                “You trust me?” ia mengulang pertanyaannya.
                “Iya, William,” jawabku, langsung merasa bersalah karena tidak mendengarkannya.
                “Look, everything’s gonna turn out fine,” ujarnya, berbisik. “okay?”
                Will harus sembuh sebelum berangkat ke Brussel. Tak ada yang bisa kulakukan untuk itu. Tapi aku bisa membuatnya senang.
                “I trust you,” kataku.
                Will lalu mengangkat tangannya, menyentuh pipiku. “Kamu ngak nangis, kan?”
                “Engak, Will.”
                Ia merabanya, pelan, dan aku berdiri tegak mematung, piring cake terangkat di tangan kanan. Tidak ia temukan air mata di sana. Aku lega meskipun rasanya itu pasti terjadi kalau aku berkedip satu kali saja. Ibu jarinya turun mengikuti lekuk pipiku. Lalu ia berhenti, menemukan sehelai bulu mata yang jatuh di sana (sempat-sempatnya, bisa-bisanya dia tidak melewatkan satu detail pun), dan mengambilnya.
                “Good. That’s my girl.”
                Will memang tidak pernah menjadi juara kelas. Tapi dia anak yang cerdas. Aku yakin, pasti ia akan menjadi seseorang yang hebat saat dewasa kelak. Dengan atau tanpa Nobel Fisika itu.
                Lalu aku berjanji dalam hati. Ucapku, apabila Tuhan mengembalikan segalanya seperti sedia kala, dan semuanya baik-baik saja setelah ini, maka aku akan memberikan apa pun yang bisa kuberi untuk Will.
***
SETELAH DIREMIX...
Setelah terjadinya gempa besar di akhir abad 21, para ilmuan dan peneliti di seluruh dunia berbondong-bondong melakukan riset dan penelitian untuk memperbaiki lagi dunia yang rusak akibat bencana tersebut. Kerusakan besar yang ditumbulkan, membuat mereka mulai menata ulang kembali peradaban manusia yang baru dengan menggunakan teknologi super canggih yang pernah ada. Robot-robot yang dapat bergerak cepat tanpa memerlukan tenaga yang besar, kini diturunkan di segala aspek untuk membantu memperbaiki kerusakan tersebut.
Tidak lama sekitar 20 tahun setelah bencana besar, peradaban manusia tumbuh dengan pesat. Jauh berbeda bila dibanding peradaban sebelumnya. Dulu, di abad 21, manusia mengenal mobil sebagai alat transportasi darat, kin,i langit dipenuhi dengan AC atau Air Car berbagai bentuk karena di darat diperuntukkan hanya untuk pejalan kaki. Pesawat terbang tidak dipergunakan lagi karena ukurannya yang besar sedangkan gedung-gedung tinggi berdiri di mana-mana.
Manusia pun tidak perlu bersusah payah lagi melakukan aktivitas berat karena segalanya diatur dengan mesin. Robot rumahan atau ‘House’s Robot’ yang dapat melakukan pekerjaan rumah seperti menyapu, memasak, mencuci dan sebagainya, diproduksi secara besar-besaran. Akibatnya, manusia menjadi malas bekerja. Pengangguran pun terjadi di mana-mana, karena pekerjaan yang mereka tempati telah memiliki robot canggih yang dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat dibanding tenaga mereka. Kerusuhan dan peperangan tidak dapat dielakkan. Nuklir, senjata biologis, dan senjata mematikan lainnya sudah tidak tabu lagi. Banyak pemerintah Negara yang menggunakannya dengan alasan pertahanan negara. Perkembangan yang pesat ternyata tak sejalan dengan perdamaiannya.
***
New York City, AS 2045
“Apa?” suara Karla terasa tercekat ketika mengatakan kata itu. Perasaan kecewa dan takut seketika menjadi satu, berkumpul di dadanya yang kian menyesakkan. Ia tatap lagi para ilmuan yang berdiri di depannya untuk meyakinkan apa yang telah mereka katakan tadi. Hanya sebagian yang memerhatikan, sebagian lain sibuk memeriksa sebuah cocoon atau kapsul mirip kepompong yang rencananya akan digunakan tentara Amerika untuk berperang. Pesawat tempur model baru, tetapi dapat digunakan di darat, udara, maupun laut. Bahannya pun sangat elastic sehingga tahan terhadap benturan keras.
Rencananya, cocoon ini akan diuji coba hari ini. Karla tidak menyangka kalau yang akan mencobanya adalah seseorang yang sangat dicintainya. Ia mungkin tidak akan sepusing ini jika yang melakukannya orang lain. Jujur, ia sangat benci yang namanya uji coba. Kesalahan sedikit pun akan berakibat fatal kepada orang yang akan ‘diujicobakan’.
Karla menatap sosok tampan di depannya, William. Kini ia sudah berganti pakaian, duduk di sebuah tempat khusus penuh kabel-kabel beraliran listrik. Ia sedang di-cek up sebelum masuk ke dalam cocoon tersebut. Ingin rasanya Karla mengamuk di tempat itu, tapi ia tahu Will tidak akan menyukai hal itu. Dia sangat mencintai pekerjaannya. Karla sendiri tidak tahu apakah penelitian itu lebih dicintainya daripada dirinya.
Mereka telah lama saling kenal, setelah lima tahun bekerja sama di tempat itu. Mereka sudah  berencana menikah setahun lalu tetapi selalu gagal dikarenakan penelitian itu. Karla selalu bersabar. Ia paham akan pentingnya pekerjaan William. Pekerjaannya juga. Karla pura-pura sibuk melihat kertas-kertas di atas mejanya ketika melihat Will berjalan ke arahnya.
Seakan membaca pikirannya, Will menggenggam tangan Karla, “Karla, kamu percaya sama aku?”. Karla menghembuskan nafas berat, lalu manatap Will sambil mengangguk pasti.
“You trust me?” William sengaja mengulanginya. Ia memang selalu seperti itu. Menurutnya anggukan kepala bukanlah sebuah jawaban yang pasti. Dan meyakinkan.
“Iya, William,”
Willian tersenyum puas. Ia kemudian pergi ke ruang cocoon setelah mencium kening Karla. Gadis itu hanya tersenyum, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya. Di balik kaca ia melihat Will masuk ke dalam kapsul berwarna hitam itu.
Bunyi mesin power yang dinyalakan cukup membuat hati Karla berdegup kencang. Sambil menutup mata, Ia berharap tidak terjadi apa-apa menjelang pernikahannya sebulan lagi. Tidak lagi, setelah dua kali mengalami kegagalan. Karla membuka matanya ketika mendengar suara riuh tepuk tangan dan goraian dari orang-orang disekitarnya.
Di sana, di dalam ruangan yang luas, ia melihat Will terbang kian kemari menyalakan beberapa senjata mematikan dari dalam kapsul itu. Karla tersenyum. Proyek lima tahun itu berhasil. Ia pasti sangat bangga.
Will akhirnya keluar dari cocoon dan langsung menemui Karla.
“Look, everything’s gonna turn out fine,” katanya sambil tertawa. “Okey?” tanyanya lagi berusaha membuat gadis itu jengkel. Karla hanya mengacak rambutnya pelan. Ia masih terbawa suasana.
Dalam perjalanan pulang, Karla memperhatikan Will yang duduk di sebelahnya. Ia seharusnya percaya sepenuhnya kepada Will. Lima tahun seharusnya cukup membuatnya percaya. Mungkin ia terlalu mengkhawatirkannya. Will yang melihat tatapan Karla langsung mengedipkan matanya.
“I trust you,” Karla berbisik. Lelaki itu tersenyum, “Kamu ngak nangis, kan?” godanya lagi.
Sambil tertawa pelan, Karla mencium keningnya. “Enggak, Will.”
“Good. That’s my girl.”
Will merangkul gadis itu. Ia tahu gadis itu telah bersabar menunggunya. Kali ini, ia tidak akan membuatnya menunggu lagi. Ya, sebulan lagi ia pasti akan menetapi janjinya. William sangat menyayanginya.